ArtikelBerita

LOMBA REGU PENGGALANG

Tulisan di bawah ini diambil dari sebuah bab khusus tentang Lomba Regu Penggalang (Patrol Competitions) dari salah satu seri buku ‘Gilcraft’ yang berjudul Gleanings. Seri buku Gilcraft adalah buku panduan kepramukaan yang disusun oleh Francis Gidney (Kepala Perkemahan pertama Gilwell Park) dan diteruskan oleh para Pelatih di Gilwell Park pada rentang 1920 s.d. 1930-an. Meskipun tulisan ini sudah hampir berusia 100 tahun, persoalan tentang metode lomba dalam kepramukaan masih relevan dengan kondisi saat ini, khususnya di Indonesia. Mungkin ada kekeliruan terjemahan atau tafsir istilah dalam tulisan di bawah ini. Beberapa penyesuaian dari teks asli dilakukan untuk mempermudah pemahaman dengan konteks kepramukaan di Indonesia. Sumber tulisan bisa diakses melalui tautan: http://www.thedump.scoutscan.com/gleanings.pdf

Tidak perlu lagi menekankan pentingnya lomba yang dilaksanakan antar Regu Penggalang, manfaatnya sudah lama diakui. Namun, yang perlu menjadi pertimbangan adalah beberapa bahaya dari perlombaan itu dan cara menghindarinya.

Selalu ada resiko jika anggota pramuka memberikan usaha terbaiknya hanya ketika dia sedang berlomba. Ketika seorang anggota pramuka mulai bertanya, “Apakah ini (hasil kerjanya) dihitung untuk mendapatkan poin?” maka ada sesuatu yang keliru. Ia lebih memikirkan perolehan nilai lomba daripada “nilai kepramukaan” itu sendiri. Solusinya adalah dengan menghentikan sementara semua perlombaan sampai para peserta didik menyadari bahwa mereka harus selalu memberikan yang terbaik setiap saat, terlepas dari ada atau tidaknya pemberian poin.

Seringkali, hanya satu Regu yang meraih kemenangan terus-menerus. Hal ini mungkin bukan semata-mata karena keunggulan Regu itu. Faktor pengalaman, penempatan anggota baru, waktu luang yang lebih banyak untuk kegiatan/latihan pramuka, dan lain sebagainya membuat sebuah perlombaan tidak pernah betul-betul adil. Regu-regu lain cenderung menjadi patah semangat dan mengerjakan tugas secara asal-asalan. Situasi seperti ini biasanya muncul ketika perlombaan bersifat terlalu kaku, sehingga materi yang dipilih cenderung hanya mengakomodasi kemampuan khusus Regu tertentu dan mengabaikan kemampuan Regu lainnya. Solusinya, tentu saja, adalah dengan memvariasikan jenis kegiatan sebanyak mungkin dan senantiasa menyisipkan unsur kejutan dalam setiap aktivitas di Gugusdepan.

Mungkin bahaya terbesar dari perlombaan adalah karena perlombaan itu sendiri hanya menekankan sisi praktikal (teknis) kepramukaan, alih-alih mengedepankan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya (meskipun pada beberapa kasus ada juga lomba yang berfokus pada pengembangan karakter). Sebuah Regu bisa saja sangat hebat dalam segala hal teknis kepramukaan, namun lemah dalam aspek-aspek mendasar kepramukaan. Baden-Powell sudah memperingatkan hal ini dalam buku Scouting for Boys dengan mengatakan, “Hanya ada satu tolok ukur bagi Pembina Pramuka untuk menilai keberhasilan atau kegagalan kinerjanya, yaitu ketika peserta didiknya menjadi warga negara yang lebih baik berkat pembinaan yang telah ia berikan. Tidak cukup hanya dengan mereka tampil gagah saat upacara, mahir berkemah, ahli dalam semboyan isyarat, dan lain-lain. Semua itu hanyalah tahapan dalam proses pembinaan. Poin penting yang harus diperhatikan adalah: Apakah mereka mencapai tujuan utamanya? Apakah mereka benar-benar menjadi warga negara yang sehat, bahagia, dan suka menolong?”

Meskipun dalam arahan pertamanya kepada para Pembina, Baden-Powell menyatakan bahwa pelatihan kepramukaan sedapat mungkin dilakukan melalui praktik, permainan, dan perlombaan, Ia sebenarnya tidak secara khusus mewajibkan perlombaan antar Regu. Banyak aktivitas Pasukan yang berjalan dengan baik (menurut kriteria Baden-Powell) tanpa mengadakan perlombaan sama sekali. Oleh karena itu, mari kita ingat baik-baik bahwa perlombaan bisa menjadi metode kepramukaan yang baik, tetapi sama sekali bukan merupakan keseluruhan struktur kegiatannya. Hal ini berlaku tidak hanya di dalam sebuah Pasukan, tetapi juga pada lingkup Gugusdepan dan wilayah (Ranting, Cabang, Daerah, Nasional).

Dengan mempertimbangkan seluruh uraian di atas, kita bisa merancang mekanisme perlombaan antar Regu yang ideal. Sebuah skema lomba yang pernah diterapkan selama beberapa tahun pada masa awal kepramukaan bisa menjadi contoh yang berguna. Dewan Penggalang menyusun skema untuk perlombaan antar Regu dalam jangka waktu dua bulan dengan skema seperti di bawah ini:

  1. Kehadiran
    • Pertemuan Pasukan: Setiap Regu memperoleh poin untuk setiap kehadiran anggota regu dalam pertemuan pasukan dengan menggunakan seragam yang lengkap dan benar. Ketidakhadiran dengan alasan yang sah akan dimaklumi.
    • Pertemuan Regu: Setiap Regu memperoleh poin untuk setiap pertemuan yang dihadiri oleh setidaknya 75 persen anggota Regu.
  2. Tanda Kecakapan: Setiap regu memperoleh poin untuk setiap pencapaian tanda kecakapan anggotanya, dengan rincian:
    • 5 poin per orang yang telah berhasil memenuhi kecakapan Tenderfoot (serupa dengan TKU Penggalang Ramu);
    • 15 poin per orang yang telah berhasil memenuhi kecakapan Second Class (serupa dengan TKU Penggalang Rakit);
    • 25 poin per orang yang telah berhasil memenuhi kecakapan First Class (serupa dengan TKU Penggalang Terap);
    • 10 poin untuk setiap Tanda Kecakapan yang menjadi syarat bagi King’s Scout atau Bushman Thong (semacam Tanda Kecakapan Khusus);
    • Tanda Kecakapan lainnya masing-masing 5 poin.
  3. Perlombaan kejutan: Regu Peringkat I mendapat 10 poin; Regu Peringkat II mendapat 6 poin; Regu Peringkat III mendapat 3 poin.”

Skema ini tidak dimaksudkan sebagai model perlombaan baku. Tentu sebuah lomba harus disesuaikan dengan situasi dan kondisi masing-masing Pasukan itu sendiri. Namun, skema ini dapat memberikan gambaran satu atau dua poin penting dalam melaksanakan perlombaan regu.

Perlu menjadi perhatian bahwa skema lomba antar Regu dalam Pasukan diatur oleh Dewan Penggalang. Dengan kata lain, para Pemimpin Regu sebagai anggota Dewan Penggalang yang menjadi pemrakarsa. Lomba tersebut tidak dipaksakan oleh para Pembina Pramuka. Selanjutnya, tetapkan jangka waktu penilaian, misalnya setiap dua bulan. Membiarkan kompetisi berlangsung tanpa akhir adalah suatu kesalahan. Bahkan Regu yang paling sukses pun senang merasa bahwa dalam beberapa minggu mereka bisa memulai kembali dengan semangat baru. Hal ini bisa mencegah munculnya rasa bosan dan jenuh.

Dari mekanisme lomba yang telah dijelaskan di atas. Ada tiga kelompok poin yang ditetapkan. Pertama, poin untuk kehadiran, di mana pertemuan Regu juga turut menyumbang poin. Hal ini perlu bagi peserta didik karena pertemuan Regu seringkali terabaikan. Karenanya, beberapa orang menyarankan bahwa dengan memasukkannya dalam sebuah kompetisi, pertemuan regu akan kembali bergairah. Ketika hasil yang diharapkan telah tercapai (jumlah kehadiran atau intensitas pertemuan regu meningkat), bagian ini bisa dihapus dari skema lomba. Tetapi bisa diberlakukan kembali jika diperlukan. Mungkin perlu memberikan poin lebih besar untuk kehadiran agar tersedia selisih yang cukup untuk melakukan pengurangan poin akibat ketidakrapian, dan sebagainya.

Kedua, poin untuk tanda kecakapan perlu dipertimbangkan dengan baik. Setiap anggota akan mendapat dorongan mencapai tingkatan First Class; oleh karena itu, tanda kecakapan ini bernilai 25 poin jika berhasil diraih. Sempat terjadi diskusi panjang di Dewan Penggalang mengenai apakah setiap ujian untuk tanda kecakapan tersebut sebaiknya tidak perlu diperhitungkan dalam muatan lomba Regu. Pembina juga mendukung hal tersebut. Namun, beberapa Pemimpin Regu menentangnya. Rencana mereka terbukti efektif, karena jumlah anggota yang berhasil mencapai tingkatan First Class terus meningkat. Tidak ada pembahasan mengenai tali penghargaan kecakapan menyeluruh (all-round cords)! Para Pemimpin Regu merasa bahwa karena poin sudah diberikan untuk masing-masing tanda kecakapan secara terpisah, hal itu sudah cukup. Di saat yang sama, mereka beranggapan bahwa tanda kecakapan Bushman’s Thong (semacam tanda kecakapan khusus) berada dalam kategori yang berbeda; belum ada seorang pun di Pasukan tersebut yang meraihnya, dan dirasa perlu ada langkah khusus untuk mengatasinya.

Penting untuk dicatat bahwa perbedaan kondisi masing-masing Pasukan itulah yang menjadi tolok ukur dalam menyusun skema lomba antar Regu. Memasukkan hal-hal yang masih kurang dari sebuah Pasukan dalam skema lomba tidak selalu membuahkan hasil yang diharapkan, tetapi secara umum terlihat adanya peningkatan.

Poin ketiga, perlombaan kejutan merupakan hal yang penting. Pengaturannya diserahkan sepenuhnya kepada para Pembina Pramuka, dengan tujuan menghadirkan praktik kepramukaan nyata pada aspek-aspek yang menurut mereka perlu ditekankan. Terkadang, Dewan Penggalang akan menyarankan agar minggu depan diadakan sesi latihan isyarat (morse, semapor, dsb). Namun biasanya, bentuk kejutan setiap minggunya diserahkan penuh kepada para Pembina. Sebenarnya, bagian inilah yang menghidupkan seluruh rencana tersebut. Bukan karena Pembina yang mengaturnya, melainkan karena hal itu menghadirkan unsur kejutan yang seharusnya memegang peranan besar dalam kegiatan Pramuka. Misalnya dalam sebuah acara perkemahan di malam hari, anggota Pasukan secara tiba-tiba diberikan penugasan melakukan serangkaian simulasi kecelakaan. Pada kesempatan lain, diberikan variasi dari “Permainan Kim”, atau pemberian tes pengamatan yang menantang dan mengejutkan. Dengan cara ini, berbagai macam kegiatan dapat dihadirkan tanpa pengulangan yang membosankan. Tanpa lomba kejutan ini, rencana tersebut akan berjalan secara mekanis; hanya sekadar soal menjumlahkan tingkat kehadiran dan perolehan tanda kecakapan.

Dalam uraian skema lomba di atas, permainan tidak dimasukkan sebagai salah satu aspek penilaian. Beberapa orang berpendapat, poin untuk permainan dalam lomba antar Regu dikhawatirkan berlebihan, sebagaimana porsi permainan itu sendiri juga sering dirasa terlalu mendominasi kegiatan Pasukan. Kecuali dalam beberapa kondisi tertentu, permainan sebaiknya dilakukan untuk mendapat kesenangan dalam permainan itu sendiri, bukan semata-mata untuk mengumpulkan nilai. Dengan demikian, permainan lebih dapat dinikmati oleh semua orang dan memberikan relaksasi yang diperlukan. Pengecualian berlaku untuk permainan yang melibatkan pengetahuan dan keterampilan kepramukaan yang nyata; jenis permainan seperti ini bisa dengan mudah dimasukkan ke dalam kategori kompetisi kejutan.

Pembahasan rinci mengenai skema ini mungkin dapat mempertegas poin-poin prinsipil yang penting. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, skema lomba di atas mungkin tidak cocok untuk diterapkan pada Pasukan lain. Dari sini dapat dilihat risiko penyeragaman kegiatan antar-Pasukan yang dapat mengurangi esensi penting dari kegiatan kepramukaan yang variatif dan adaptif.

Selanjutnya, persoalan mengenai pemberian trofi atau hadiah dalam kompetisi selalu menjadi hal yang diperdebatkan. Secara sekilas, pencapaian keberhasilan itu sendiri sudah merupakan hadiah, sehingga tidak diperlukan lagi imbalan tambahan. Sayangnya, bagi banyak orang, bahkan anggota Pramuka, tampaknya membutuhkan insentif tambahan agar mau mengerahkan kemampuan terbaik mereka, dan tidak merasa puas hanya dengan karangan bunga kemenangan ala Yunani kuno. Sangat diragukan apakah kita dalam kepramukaan perlu mengikuti hal semacam itu. Secara pribadi, saya menolak penggunaan trofi yang memiliki nilai materiil untuk kompetisi Pramuka apa pun.

Terkait perlombaan antar Regu, sudah cukup rasanya jika Regu pemenang mendapatkan posisi istimewa saat upacara Pasukan dan namanya tercantum di urutan teratas daftar pada papan pengumuman. Mungkin dengan memberikan sebuah cangkir kemah lama atau totem keterampilan alam (woodcraft) kepada Regu pemenang, atau bendera Regu mereka bisa dikibarkan pada tiang bendera perkemahan. Penggunaan perisai perak yang diukir dengan nama Regu pemenang tidak sepenuhnya selaras dengan tujuan maupun tradisi kepramukaan.

Sebaiknya tidak ada hadiah utama yang pasti dalam kompetisi besar apa pun. Sebaliknya, biarlah semua anggota Regu atau Pasukan yang berkompetisi berupaya mencapai standar tertentu, lalu menerima sertifikat, yang sebisa mungkin juga bernuansa keterampilan alam, sebagai bukti pencapaian mereka. Hal ini semestinya menjadi dorongan yang cukup untuk melakukan segala sesuatu dengan baik, dan mereka dapat berupaya melampaui standar tersebut di lain waktu. Dengan demikian, mereka bersaing dengan diri sendiri dan tidak harus bersaing dengan orang atau tim lain. Kebijakan ini telah diterapkan dengan baik belakangan ini, dan berhasil menghilangkan perselisihan serta rasa iri hati yang sepele, serta mewujudkan nila-nilai kepramukaan yang lebih baik. Meskipun nilai-nilai kepramukaan tersebut tidak dapat diukur secara pasti, nilai-nilai itu harus terus ditanamkan kepada setiap anggota pramuka.

(Dd)

Related Articles

Back to top button