
“Now I see the secret of making the best person: it is to grow in the open air and to eat and sleep with the earth.” – Walt Whitman
Bulan Agustus yg cukup padat membuat saya membutuhkan penyegaran raga dan pikiran. Semalam, saya meminta saran kepada Aan, calon pandega dari gudep salewangang, tempat berkemah yang pas. Saya memberikan kriteria lokasi: jaraknya tidak terlalu jauh dari Maros; cuacanya cukup dingin, kalau bisa agak berkabut, dan tentu saja, pemandangannya indah. Aan memberi opsi 1-2 tempat. “Besok berangkat juga bisa, Kak”, pancingnya.
Percakapan kami lantas berkembang sampai ke metode dan materi yang tepat diberikan kepada pramuka golongan pandega. Apakah aktivitas kepramukaan tradisional seperti pionering dan berkemah masih relevan bagi pemuda seusianya? Saya banyak bertanya, mendengar langsung dari sudut pandang dari Aan. Bagaimana mengemas materi kegiatan yang tidak hanya menantang bagi golongan Pandega, tetapi juga menjawab kebutuhan hakiki mereka sebagai pemuda di era digital.
Saya lantas teringat, Tempo.co pernah memuat berita yang bertajuk “Mengapa Popularitas Pramuka Makin Menurun”. Dalam rilis itu, ditulis bahwa kaum muda, yang saat ini didominasi Gen-Z dan Gen Alpha, merasa bahwa kepramukaan di masa sekarang sudah tidak relevan dan membosankan. Di media sosial, sebagian besar komentar mengamini hal tersebut. Kentalnya senioritas dan kegiatan yang jadul dan kurang menarik menjadi alasan terbanyak terungkap. Dari sisi internal, persoalan kerap muncul karena pengurus organisasi tidak berorientasi pada peningkatan pola pembinaan bagi anggota pramuka. Alhasil, kegiatan-kegiatan pramuka bersifat monoton dan tidak mengikuti perkembangan zaman. Pertanyaannya, apakah memang kepramukaan ketinggalan zaman?
Sejarah telah mencatat rangkaian usaha manusia melampaui batas biologisnya. Rentang waktu antar lompatan teknologi memendek secara drastis. Dari penemuan api ke penemuan sistem tulisan butuh puluhan, bahkan ratusan ribu tahun, tetapi dari revolusi industri ke era digital hanya memakan waktu hitungan dekade. Akselerasi ini menciptakan ketimpangan mendasar. Teknologi melompat ke masa depan dengan kecepatan eksponensial, sementara biologi dan struktur saraf otak manusia masih tertinggal pada pola evolusi yang sama seperti ribuan tahun lalu. Kita hidup di tengah kota beton, dikepung layar, dan diserbu informasi tanpa henti, padahal perangkat saraf kita sebenarnya dirancang untuk hidup di alam terbuka.
Kesenjangan ini menjelaskan mengapa tubuh dan pikiran kita sering mendadak jenuh. Dalam buku Biophilia Hypothesis, Edward O. Wilson menjelaskan bahwa manusia memiliki dorongan biologis bawaan untuk terhubung dengan alam bebas. Berada di ruang terbuka, melihat pepohonan, dan merasakan udara dingin bukan sekadar hiburan, melainkan cara alami otak manusia untuk menurunkan hormon stres serta memulihkan fungsi kognitif. Keterasingan dari alam dan penyeragaman interaksi lewat layar justru melahirkan fenomena seperti Nature Deficit Disorder dan kerapuhan mental pada generasi muda (Last Child in the Woods, Richard Louv).
Di titik inilah metode kepramukaan menemukan momentum relevansi terbesarnya. Ketika dunia luar bergerak makin cepat dan artifisial, kepramukaan justru konsisten membawa manusia kembali ke akarnya. Lewat kegiatan di alam terbuka, anggota pramuka memenuhi kebutuhan biologis biophilia (cinta alam) dan mengasah ketahanan fisik di dunia nyata. Melalui sistem beregu dan prinsip learning by doing, mereka dilatih berkomunikasi tatap muka, bergotong royong, serta memecahkan masalah secara langsung hal-hal yang tidak bisa digantikan oleh algoritma atau kecerdasan buatan mana pun.
Gerakan Pramuka (scout movement) telah berusia lebih dari satu abad. Dimulai sejak Robert Baden-Powell melakukan perkemahan percobaan di Brownsea Island pada 1907 silam, kepramukaan dijalankan dengan metode pendidikan mancakrida yang menitikberatkan pada pembentukan karakter melalui aktivitas bermain sambil belajar di alam terbuka. Kata kuncinya, “pembentukan karakter”, “bermain sambil belajar”, dan “alam terbuka”. Jika ditelaah lebih lanjut, pokok-pokok pembinaan dalam kepramukaan sangat fleksibel dan dapat disesuaikan kapanpun dan dimanapun.
Meskipun sasaran akhirnya adalah pembentukan karakter, salah satu ciri penting dalam kepramukaan adalah aktivitas bermain sambil belajar. Metode ini adalah alat utama dalam pendidikan kepramukaan. Dengan cara pembawaan yang tepat di setiap golongan, metode “bermain” akan memberikan pengalaman belajar yang tidak akan terlupakan bagi setiap peserta didik.
Aktivitas di alam terbuka yang identik dengan kepramukaan bukanlah ciri ke-kuno-an. Saat ini, semakin banyak lembaga pendidikan formal yang menerapkan pola pembelajaran pada aktivitas luar ruangan. Bisa dilihat dari banyaknya sekolah-sekolah swasta yang berkonsep sekolah alam. Aktivitas masyarakat saat ini juga justru semakin mengarah ke alam bebas, menghindari kebisingan dan rutinitas kehidupan di perkotaan. Healing banyak dilakukan dengan kegiatan berwisata ke pantai atau pegunungan, tracking, hiking, dll. Banyak perusahaan-perusahaan besar yang melakukan family gathering yang berbentuk outbond dan semacamnya. Semakin banyak pula spot wisata yang menawarkan aktivitas di alam bebas. Itu menandakan bahwa di era modern seperti sekarang pun, hubungan manusia dengan alam tidak akan bisa dipisahkan.
Lompatan teknologi akan terus terjadi dan mempermudah hidup kita sehari-hari. Namun, kemajuan itu tidak bisa menggantikan kebutuhan dasar manusia akan alam dan hubungan sosial yang nyata. Metode kepramukaan tetap relevan secara abadi bukan karena ia menolak masa depan, melainkan karena ia hadir sebagai jangkar eksistensi. Kepramukaan akan selalu mengajak kita kembali ke luar ruangan, mengasah karakter secara nyata, dan menjaga kita tetap menjadi manusia yang utuh. Saya rasa Aan, dan calon-calon pandega lain akan sepakat dengan itu. (Dd)








