
Ada ironi yang tumbuh diam-diam di negeri ini. Gerakan Pramuka dipuji di podium-podium, tetapi dilupakan dalam kebijakan. Namanya dielu-elukan saat upacara, tetapi ruang hidupnya perlahan dipersempit dalam kenyataan.
Banyak pemimpin pemerintahan begitu gagah mengenakan seragam cokelat lengkap dengan deretan Tanda Penghargaan Orang Dewasa. Di dadanya ada Pancawarsa, Darma Bakti, bahkan mungkin Lencana Melati, namun lupa bahwa setiap lencana itu sejatinya bukan hiasan kehormatan, melainkan sumpah pengabdian. Sebab lencana bukan logam, ia adalah amanah. Dan amanah itu akan kehilangan makna ketika seorang pemimpin lebih sibuk memoles simbol dibanding menjaga ruh gerakan yang melahirkannya.
Gerakan Pramuka bukan organisasi pelengkap seremoni negara. Ia adalah akar sunyi yang bekerja di bawah tanah peradaban. Ia tidak selalu tampak di layar televisi, tetapi darinyalah tumbuh generasi yang belajar tentang disiplin, gotong royong, keberanian, kepemimpinan, dan cinta tanah air. Negara ini sesungguhnya lebih membutuhkan Gerakan Pramuka daripada Gerakan Pramuka membutuhkan negara. Karena ketika sekolah hanya mengajar pengetahuan, Pramuka mengajarkan karakter. Ketika dunia sibuk melahirkan manusia pintar, Pramuka berusaha melahirkan manusia benar. Dan ketika zaman mulai kehilangan arah moral akibat derasnya arus individualisme, Pramuka tetap berdiri sebagai mercusuar sunyi yang menjaga nilai pengabdian dan kebersamaan.
Tetapi hari ini, banyak pemimpin mulai lupa. Mereka datang ke perkemahan membawa pidato, tetapi pulang tanpa meninggalkan kebijakan. Mereka tersenyum di depan tenda peserta didik, namun membiarkan bumi perkemahan terbengkalai. Mereka bangga dipanggil “Kakak”, tetapi tidak pernah sungguh-sungguh menjadi kakak bagi gerakan ini.
Padahal sejarah telah membuktikan bangsa yang besar tidak dibangun hanya dengan beton dan gedung tinggi. Ia dibangun oleh karakter manusia-manusia mudanya. Dan karakter itu tidak lahir di ruang rapat berpendingin udara. Ia lahir di tanah lapang, di api unggun, di barisan hujan, di tali-temali pengabdian, dan di kawah toddo’puli bernama Gerakan Pramuka.
Meskipun juga diakui tidak sedikit pula pemimpin yang memahami hal itu. Mereka yang masih memandang Pramuka bukan sebagai atribut politik, melainkan investasi peradaban. Mereka menjaga bumi perkemahan seperti menjaga mata air di tengah kemarau moral bangsa. Mereka mendukung pelatihan, pembinaan, dan pendidikan karakter karena sadar bahwa masa depan daerah tidak hanya ditentukan APBD, tetapi juga kualitas jiwa generasi mudanya. Pemimpin seperti itu ibarat pohon beringin tua di tengah padang. Tidak banyak bicara, tetapi menaungi. Tidak sibuk memamerkan akar, tetapi memberi kehidupan. Mereka sadar bahwa seragam Pramuka bukan kostum kekuasaan. Ia adalah pakaian pengabdian.
Sangat disayangkan karena sebaliknya, ada pula pemimpin yang menjadikan Pramuka sekadar panggung pencitraan. Seragam dikenakan hanya saat kamera menyala. Tanda penghargaan dipasang penuh kebanggaan, namun tempat kaderisasi justru dibiarkan hilang satu demi satu. Mereka ingin dihormati sebagai tokoh Pramuka, tetapi enggan memikul beban sejarah dan tanggung jawab moral gerakan ini.
Mereka lupa, sejarah tidak hanya mencatat siapa yang memakai lencana, tetapi juga siapa yang menjaga marwahnya.
Sebab di dada seorang pemimpin, Tanda Penghargaan Orang Dewasa bukanlah medali kemewahan. Ia adalah saksi bisu. Dan saksi itu kelak akan berbicara kepada sejarah apakah pemiliknya benar-benar mengabdi, atau hanya menikmati kehormatannya saja.
Gerakan Pramuka tidak pernah meminta dimuliakan. Ia hanya meminta jangan dikhianati. Karena sesungguhnya, ketika sebuah bangsa mulai mengabaikan pendidikan karakter, saat itulah ia sedang menggali pelan-pelan lubang bagi masa depannya sendiri. (H. A. Fahri Makkasau – Kapusdiklatda Sulawesi Selatan)








