ArtikelBerita

Quo Vadis Arah Pembinaan Pramuka Maros

Ada dua momen berkesan bagi saya dalam beberapa hari ini. Kamis malam lalu, saya menyaksikan Puang Cile (Kak H. M. Wasir Ali) berdiri tegak di depan deretan pengurus Badan Kelengkapan dan Organisasi Pendukung Kwarcab Gerakan Pramuka Maros. Beliau turut dilantik sebagai Ketua Dewan Kehormatan Kwarcab Maros.

Saat saya masih menjadi pengurus DKC Maros lebih dari satu dekade yang lalu, beliau menjabat Ketua Kwarcab. Tak kurang dari 13 tahun lamanya Puang Cile memimpin Kwarcab Maros. Fisik beliau sudah tak seperti dulu lagi, pendengarannya sudah mulai menurun, tapi semangatnya tak kalah dari ratusan pengurus yang dilantik pada malam itu. Pelantikan baru dimulai selepas isya, tapi beliau sudah hadir di tempat acara bakda ashar. Lencana Melati yang terkalung di lehernya adalah sebuah penanda yang memang tidak perlu dipertanyakan lagi kelayakannya. Mata saya sempat berkaca-kaca saat Puang Cile mengulang janji Trisatya dan mengucapkan ikrar dengan perlahan, tapi tegas dan mantap.

Momen selanjutnya saat siang kemarin. Saya mengantar Nada, anak saya yang masih berusia Siaga, berangkat latihan pramuka di sekolahnya. Langit saat itu mendung. Dalam perjalanan, satu dua tetes hujan sudah saya rasakan di muka. Di atas motor, Nada berteriak ke telinga saya, “Bapak, mau hujan!” Saya menjawab, “Ndapapa, kalau hujan mungkin latihan di kelas ji, Nak”. Nada tidak melanjutkan percakapan. Dalam hati saya ingin menceritakan tentang Puang Cile di acara pelantikan kemarin. Tapi urung saya utarakan, karena tentu saja dia tidak akan terlalu mengerti. Dari awal memang Nada sudah setengah hati untuk latihan pramuka hari ini. Bagi dia, lebih menyenangkan berbaring di kamar sambil menonton anime favoritnya. Raut mukanya jauh lebih bersemangat ketika saya datang menjemput pulang ke rumah.

Ada rasa bersalah karena agak memaksakan dia untuk ikut latihan pramuka. Padahal selama ini, saya sendiri sangat menekankan prinsip kesukarelaan. Tapi saya ingin Nada setidaknya mengenal kepramukaan. Dia harus tahu, bahwa bermain sambil belajar bersama teman sebayanya, bisa lebih menyenangkan dibanding seharian bermain HP di rumah, dan tentu lebih menyehatkan.

Saya lantas berpikir, tantangan Gerakan Pramuka sekarang jelas sungguh berbeda dengan beberapa tahun silam. Di era disrupsi digital saat ini, untuk menjalankan kegiatan yang “menarik dan menantang” menjadi terasa lebih menantang. Penurunan minat generasi muda untuk berpramuka menuntut kita menjawab pertanyaan mendasar, ke mana arah pembinaan kita di masa depan?

Sejatinya, kepramukaan adalah permainan yang bebas dari paksaan, sekaligus dapat menarik hati anak-anak dan pemuda, sehingga muncul keinginan dari dalam diri mereka sendiri untuk berpramuka dengan sungguh-sungguh. Pendidikan kepramukaan wajib beradaptasi dengan kehendak zaman, itu sudah pasti. Yang menjadi pertanyaan, bagaimana caranya? Apakah cukup hanya dengan latihan menggunakan perangkat-perangkat teknologi terkini? Tentu tidak sesederhana itu.

Salah satu prioritas strategis yang tertuang dalam Renstra Gerakan Pramuka Maros tahun 2026-2031 adalah transformasi program anggota muda yang menyasar aspek spriritual, emosional, sosial, intelektual, dan fisik (Sesosif) sesuai dengan minat peserta didik. Transformasi, Sesosif, dan kesesuaian minat peserta didik adalah segitiga emas pola pembinaan anggota pramuka, yang dibungkus dengan metode kepramukaan.

Transformasi bukan sekadar mengubah bentuk kegiatan atau mendigitalkan administrasi, melainkan merombak cara kita mendekati peserta didik. Menggunakan pendekatan instruksional dari atas ke bawah memang lebih mudah, namun penggunaan pola persuasif akan lebih melekat ke tiap individu. Setiap program harus dikembangkan dari aspirasi peserta didik. Namun, hal tersebut bukan berarti meniadakan kehadiran orang dewasa dalam prosesnya. Secara alami, orang dewasa memiliki peran dalam pengembangan dan implementasi program untuk memberikan pilihan dan alternatif, memotivasi, serta membantu peserta didik untuk memaksimalkan seluruh potensi mereka.

Baden Powell menggambarkan konsep pendidikannya dengan analogi sebuah umpan yang ditaruh di kail pancing harus sesuai dengan selera ikan, bukan selera pemancing. Anak-anak tidak tertarik berpramuka untuk mengembangkan kepribadiaannya. Mereka berpramuka karena kepramukaan memberikan mereka sebuah pengalaman yang menyenangkan. Namun, suatu kegiatan harus lebih dari sekadar menyenangkan agar bersifat mendidik.

Kegiatan tersebut juga harus membantu peserta didik memperoleh keterampilan yang mereka butuhkan untuk mengembangkan diri mereka. Peran orang dewasa adalah menyalurkan motivasi dan antusiasme anak muda ke dalam proses pendidikan yang alami. Fokus pembinaan harus bergeser dari sekadar pemenuhan syarat kecakapan administratif menuju pengembangan kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan zaman.

Lantas, bagaimana mengetahui minat dan kebutuhan peserta didik? Di sinilah peran pembina dibutuhkan. Pada setiap jenjang golongan, terdapat dewan anggota (Dewan Perindukan, Dewan Pasukan, Dewan Ambalan, Dewan Racana) yang menjadi wadah peserta didik untuk belajar menyampaikan pendapat dan bermusyawarah. Di dewan itu, kehadiran pembina sungguh dibutuhkan untuk menangkap aspirasi-aspirasi peserta didik. Di luar dari mekanisme tersebut, pembina juga dapat menggunakan bermacam cara untuk mengetahui minat dan kebutuhan setiap anggotanya. Misalnya bisa dengan dialog langsung di sela-sela proses latihan, bisa juga dengan menyebar angket secara berkala.

Dengan melakukan pola tersebut, secara perlahan peserta didik dapat menyadari bahwa setiap individu dari mereka penting. Hal tersebut akan memberikan kepercayaan diri yang besar bagi meraka dalam masa perkembangannya. Tidak hanya para pembina, tetapi juga peserta didik itu sendiri harus menyadari sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang didapatkan dalam kepramukaan untuk menyempurnakan perkembangan diri mereka.

Jika Gerakan Pramuka (kwartir dan gugusdepan) tidak lagi mampu menarik minat anggota dan membatasi perhatian hanya untuk golongan tertentu (Penggalang misalnya), hal itu bisa menjadi indikasi perancangan program hanya dilakukan sesuai selera orang dewasa, tanpa mendiskusikannya dengan peserta didik dan tanpa mempertimbangkan aspirasi mereka.

Program dan kegiatan yang dibuat tanpa berfokus pada tujuan, prinsip dasar dan metode kepramukaan yang mendasari kegiatan-kegiatan tersebut, berisiko jatuh ke dalam perangkap “aktivisme”. Kegiatan yang dilakukan hanya untuk kepentingan orang dewasa akan membuat kegiatan-kegiatan tersebut diulang secara pasif dan kualitasnya terus menurun. Program dan kegiatan yang tidak berorientasi pada tujuan, tidak dapat dipahami dengan jelas dan tidak dapat diadaptasi dengan kondisi kekinian. Program tersebut akan terasa kaku dan akhirnya usang.

Orang dewasa, yang terdiri dari pendidik (pembina, pelatih, instruktur) dan pengurus organisasi (andalan dll) harus berlaku layaknya orang dewasa, bukan seperti anak kecil. Mereka perlu meredam ego dan ambisi pribadi, karena keberhasilan pembinaan bukan hanya terletak pada angka statistik jumlah anggota, melainkan pada dampak nyata karakter yang dihasilkan. Karakter yang baik lahir dari teladan yang baik.

Akhirnya, untuk mendapatkan optimisme dalam melangkah ke masa depan, sepertinya kita memang tidak boleh berhenti merefleksi tiap jejak masa lalu. Dalam tulisannya yang berjudul “Kepandoean dalam Jong Java” di Gedenkboek Jong Java 1915 – 1930, dr. Moewardi berkata, “Atas segala keadaan di dalam penghidupan kita yang telah kita lalui kita dapat mengambil kias yang baik, sehingga dapat memperusahakan apakah yang kita pelajari dan ketahui dari teladan-teladan yang telah ada itu.”

Cerita tentang Puang Cile di awal saya sematkan sebagai sebuah contoh keteladanan yang perlu dimiliki oleh setiap orang dewasa dalam Gerakan Pramuka, apapun perannya. Tak ada tujuan Gerakan Pramuka selain membina generasi muda yang mulia budi pekertinya, cerdas akalnya, dan sehat jiwa raganya. Saya ingin Nada, dan ribuan anggota pramuka di Kabupaten Maros meneladani semangat beliau, semangat yang tidak pernah surut dimakan usia. (DD)

Related Articles

Back to top button